Hai Happy People, aku hanya ingin menyapa untuk Happy People yang pernah mengenalku mau pun yang belum mengenalku yang karena pas kebetulan sedang mampir di blogku. Semoga Happy People semua dalam keadaan sehat, tidak ada yang sakit, selalu menjaga kesehatan diri dari pandemi COVID-19. Aamiin Yaa Robbal Alamiin

Kilas Balik Beberapa Bulan Terakhir

Sejak tahun 2018 memang aku sudah mau meninggalkan mantan suami dan anak-anaknya. Tetapi urung kulakukan, dan sepanjang waktu itu hingga awal Desember 2020 aku hanya banyak berdoa minta ditunjukkan padaNya.

Namun beberapa bulan terakhir merupakan masa-masa galau dan berat untukku. Berumah tangga tetapi seperti tidak merasakan memiliki pasangan dan banyak dibohongi juga kurang komunikasi. Pikiran bertanya-tanya terus sampai mengorbankan fisik dan pikiran juga harga diri. Berkali-kali melakukan komitmen tetapi tidak ada kemajuan yang berarti.  Sambil terus berdoa apakah memang pernikahan masih bisa terus dijalankan. Tetapi Allah SWT Yang Maha Mengetahui dan Dia telah menunjukkan semua. Dan ini memang jalan yang terbaik supaya kedua belah pihak agar masing-masing dapat berbahagia.

Teringat saat awal bulan Desember 2020 ketika aku memutuskan untuk berpisah dengan mantan suami. Selama 25 hari aku masih tinggal di rumah itu, ada bagian rumah yang menjadi studio make up milikku. Aku makan, tidur dan bekerja di studio make up tersebut. Dan selama 25 hari itu aku memang sudah resmi dianggap sebagai orang lain oleh mantan suami dan anak-anaknya alias mereka sudah tidak berkomunikasi lagi denganku. Mereka tampaknya menginginkanku untuk segera keluar dari rumah mereka.  Aku mengenakan hijab walau masih serumah dengan mereka karena memang aku sudah menganggap mereka bukan muhrimku lagi. Sambil mencari kontrakan baru untukku dan anakku, aku masih menerima tamu untuk kursus make up dan make up wisuda mau pun tamu mahasiswa dari UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) untuk tugas mereka meliput kegiatanku sebagai make up artist di studio make up.

Tidak ada itikad baik dari mantan suami untuk mengembalikan aku ke wali nikahku ke Jakarta, seperti halnya dahulu memintaku baik-baik untuk menjadi istrinya ke wali nikahku. Padahal aku sudah memintanya pada tanggal 19 Desember 2020. Tetapi ah.. memang bukan lelaki sejati. Kalau kata saudara-sadaraku, ah ini sih nggak kayak ayahnya Dinda, yang dipanggil papamu dan langsung menghadap. Aku hanya tersenyum saja mendengarnya aku pun sampai saat ini juga masih terheran-heran, kenapa mau menikah dengan mantan suami yang orang Blitar tinggal di Malang ini padahal baru bertemu dua kali.

Dan ternyata pada akhirnya pernikahanku kandas. Sebetulnya, hasil studi di Amerika menyebutkan divorce rate (angka perceraian) pernikahan kedua itu presentasenya di atas 67%! Pernikahan ketiga di atas 74%. Hm, no wonder.

Mamaku Sakit

Pada bulan Oktober 2020 aku menjenguk mamaku yang sedang sakit di Jakarta. Oleh mantan suami saat itu aku tidak diperbolehkan untuk berlama-lama di Jakarta.

Ketika bersama mama menemaninya di kamar dan tiba-tiba mama menyelutuk, “Jadi janda itu nggak enak.” Aku hanya kaget dan terhenyak mendengarnya. Padahal saat itu kami sedang berdiam sambil menonton berita di TV. Sepertinya mama saat itu sudah bisa membaca pikiranku yang sedang galau dengan rumah tanggaku. Dan aku memang tidak bercerita tentang keadaan rumah tanggaku kepada mamaku. Dan mama juga orang terakhir di keluargaku yang kuberi tahu kalau aku sudah pindah ke rumah kontrakan yang baru.

Pindah Rumah

Soal perpisahan dan pindah ke rumah kontrakan aku yang baru, saat itu hanya berkoordinasi dengan papa dan sepupu-sepupuku yang di Sidoarjo dan Bangkalan Madura. Mereka sepupuku sebagai mahramku yang mengatur penjemputanku dari rumah kontrakan suamiku saat itu. Mahramku menjemputku dan berpamitan baik-baik yang dipersilakan dengan tangan terbuka oleh mantan suami.

Dan Alhamdulillah semua berjalan lancar. Banyak teman dan saudara yang menyumbang uang, kompor baru, kasur baru untuk keperluanku di rumah baru. Ah kalian memang sahabatku yang baik di dunia dan akhirat. Oiya aku dapet kulkas bekas, lumayan kan dari pada lu manyun ^_^

Tetapi yang mengaku aku sebagai sahabat mereka juga ada, dan sekaligus niat menggibahkan aku ke teman-teman yang lainnya juga ada. Lucu aja sih, yang diajak menggibah pada lapor ke aku dong. Ah terserah kalian sajalah. Ngakunya sahabat, katanya sahabat itu menutup aib sahabatnya. Tapi kok getu sih? Toh pada akhirnya aku menceritakan semua lewat artikel-artikelku di blog ini. Dan aku sekarang mencoba untuk tidak ambil pusing. Setidaknya aku sekarang sudah tahu jika mereka bukan teman baikku. Jadi mending jaga jarak ajah, hehe

Baca juga:

Sudah Ada “Sign”

Pasca perceraian, beberapa teman dekatku dari Jakarta menguhubungiku. Salah satunya adalah teman kuliahku yang sudah lama jadi single mom. Dia mengatakan kalau perceraianku ini sudah ada “sign” dari anaknya. Tahun 2018 ketika aku ke Jakarta, temanku yang masih keturunan Tionghoa datang bersama anaknya. Anaknya mau belajar make up denganku.

Pulang dari belajar make up, anaknya bertanya pada maminya alias temanku itu. “Mami, Tante Dyah itu sama kayak mami.”
Hush, jangan sembarangan ngomong ah. Tante Dyah itu pernah kayak mami tetapi sudah menikah lagi dan sekarang tinggal di Malang,” ujar temanku.
“Beneran itu, Mih,” kata anaknya temanku itu. Tetapi temanku hanya menegur anaknya supaya tidak berpikiran yang tidak-tidak.

Dan akhirnya itu yang disampaikan temanku ke aku beberapa minggu lalu pasca perceraian setelah temanku mengetahui kalau aku sudah berpisah. Ternyata sudah ada “sign” lewat anaknya. Eh aku hanya cerita saja ya, kalau anaknya temanku mempunyai kelebihan yang istimewa.

Yang Kulakukan Saat Pasca Perceraian

Aku lebih banyak di rumah. Ngapain aja, tuch? Emang sih, lagi musim hujan juga dan pandemi virus COVID-19 masih berlangsung. Kalau mau ke luar rumah juga harus berpikir dua kali.

Self Love

Pasca perceraian kali ini aku banyak melakukan self love. Seperti apa aja tuh? Emang sebelumnya gak pernah sadar untuk melakukan self love?

Well, saat ini aku banyak menghabiskan waktu luang bersama Dinda anakku dari pernikahanku yang pertama. Kalau orang-orang sih komennya, “Untuuuung nggak punya anak sama yang ini.” Haha, aku hanya tertawa saja mendengarnya. Bagaimana mau hamil, wong jarang nganu. Sampai aku gak dapat menstruasi lagi sejak tahun 2019 entah faktor karena pikiran, faktor hormon atau karena lama nggak nganu 😂 #curcol

Masa pasca perceraian ini aku dan anakku di rumah banyak melakukan waktu bersama seperti memasak, merawat diri seperti facial atau mengganti warna rambut, olah raga, pergi makan di luar dan piknik. Kebiasaan baru anakku di rumah baru ini adalah ketika dia bangun tidur pasti pindah ke kamarku dan kami berpeluk-pelukan menghabiskan pagi. Aku juga mulai rutin lagi ngeblog dan ngevlog, karena itu semacam healing untukku.

Pasca perceraian ini, aku dan anakku Dinda kemana-mana sering bareng. Walau pun dari dulu juga sudah sering pergi bareng. Seru aja sih dan kami lebih enjoy melakukannya. Dua minggu setelah ketuk palu, pipiku menggendut dan aku tidak berani menimbang berat badanku, huhu. Padahal aku sudah rajin minum jus sayur dan senam juga olah raga.

pasca perceraian

Aku saat dulu dan sekarang/2 minggu sejak ketuk palu, pertengahan bulan Februari

 

Sekarang ini aku gak pernah marah-marah lagi. Perasaan dulu sering banget ya marah-marah udah kayak orang kesetanan haa.. Ya itu kan stres karena hidup bersama toxic people. Juga sekarang sudah tidak sakit kepala lagi setiap hari. Dulu aku sering sakit-sakitan dan hampir jadi kembangnya kasur. Jam 10 pagi kalau tidak ada kegiatan, itu aku pasti sudah tidur selimutan di kamar dan sehabis Isya aku sudah masuk kamar tidur.

Rasanya lelaaaah sekali. Padahal pekerjaan rumah ya hanya segetu-getu saja. Tetapi karena dikerjakan dengan pikiran dan beban yang berat dikelilingi toxic people, sehingga aku lelah jiwa dan raga. Dan sering juga dulu itu kulitku gatel-gatel. Padahal apa yang kumakan sekarang dengan saat sebelum berpisah pun masih sama. Dan sekarang Alhamdulillah sudah  tidak gatel-gatel lagi. Mungkin dulu aku psikosomatis akut.

Tetapi Alhamdulillah sekarang aku sehat lahir dan batin. Sudah tidak ada mimpi-mimpi buruk lagi atau mimpi melihat ular. Terkadang sampai sesak dadaku ketika terbangun dari mimpi buruk. Bersyukur banget bisa lepas dari  mereka yang sering mengabaikanku dan tidak respek padaku. Ya sudahlah nggak usah diingat-ingat lagi, sekarang aku dan anakku more happier dan banyak yang mendukung perpisahan ini terutama dari anakku, keluarga dan teman-teman dari Jakarta yang masih setia memperhatikanku di media sosialku.

Aku juga sekarang hampir setiap hari melakukan rukiyah mandiri. Akibat dari rukiyah mandiri ini, aku sekarang lebih sering membaca Al Qur’an, Masya Allah. Kalau dulu mau murotal aja mualesnya amit-amit apalagi baca Al Quran. Terakhir aku dirukiyah oleh omnya sepupuku pada bulan Desember 2021. Saat itu aku merasa pusing juga mual dan mau muntah tetapi tidak keluar. Padahal sudah howek-howek megang tas kresek.

Tidak hanya melakukan rukiyah mandiri, aku juga melakukan SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique). SEFT  ini sudah kulakukan sejak tahun 2018 ketika aku mau pisah tetapi urung kulakukan. Mau tahu kalimat Set Up ketika aku melakukan SEFT? Ini dia kalimatnya: “Walaupun aku banyak dikecewakan dan sakit hati oleh (aku menyebut nama-nama mantan suami, mertua dan anak-anaknya) sehingga menyebabkan aku sakit tumor, namun aku ikhlas menerima semua kecewa dan sakit hati ini kepadaMu ya Allah dan aku pasrah untuk kesembuhan kecewa dan sakit hati juga solusi dari masalah ini.” SEFT ini sedikit banyak membantuku sehingga aku saat pasca perceraian ini nggak terlalu baper. Semoga!

Etapi aku terakhir SEFT itu tanggal 18 Maret 2021 dan aku melakukan tapping dengan keadaan pasrah dan hasilnya, aku sampai ternangis-nangis. Tetapi akhirnya aku merasa lebih lega dan juga merasa lebih baik dari sebelumnya. Masya Allah!

Oh iya, aku mengontrak rumah di sebuah cluster perumahan dengan one gate system dan rumahku ini tidak berpagar. Sering aku ketinggalan kunci di motor yang kuparkir di luar atau pintu depan yang lupa kukunci. Alhamdulillah masih aman-aman saja karena ada petugas sekuriti dari developer perumahan yang bergantian berjaga.

Rumah kontakan ini kudapatkan dari grup informasi kontrakan rumah di Malang di Facebook. Lebar depan rumah 7 meter dengan dua buah kamar tidur untukku dan Dinda anakku. Ruang tamu kujadikan studio make up. Dinda senang sekali di rumah ini. Ketika kuajak ke rumah ini pertama kali, Dinda hanya melihat dari luar tidak mau masuk. Tetapi dia bilang langsung cocok.

Kamar tidurnya menghadap timur sehingga kalau pagi hari mendapat banyak limpahan sinar matahari. Memang kamar impiannya sejak dulu ingin mendapat kamar yang menghadap matahari pagi. Kamarnya dilengkapi dengan meja belajar yang kupesan ke tukang kayu setelah kami pindah dengan desain ala Pinterest seharga Rp450,000. Kamarnya juga dilengkapi dengan lemari pakaian tiga pintu, rak buku, ambalan dinding juga rak kosmetik.

Kalau aku keluar rumah hanya bila urusan kerjaan seperti panggilan facial, make up atau kerjaanku sebagai blogger. Aku keluar rumah juga untuk belanja dan bersilaturahmi ke teman-teman terdekat. Ada yang mengajak aku untuk ngopi atau piknik yang aku sekiranya nggak nyaman, lebih baik aku hindari dulu. Ini salah satu aku melakukan self love dengan memberi batasan tegas pada diriku dan melindungi diri sendiri. Hati ini masih rawan untuk mendengar ucapan-ucapan yang mungkin menurut mereka hanya guyonan semata tetapi menurutku tidak demikian. Pasti ada pandangan miring juga dari mereka melihatku yang saat ini posisiku adalah janda dua kali. Ketika janda pertama kali juga aku sudah puas dihina oleh mertua yang kemarin ini, hmm. Yaaah begitulah masyarakat +62. Ah mungkin aku aja yang baperan, tetapi intinya aku hanya menjaga perasaan hati ini supaya tidak terlalu banyak lukanya. #eaa

Aku akan pergi dengan orang yang benar-benar dapat kupercaya. Eh jaman kayak gini, apa masih ada yang bisa dipercaya? Ah ini karena aku pernah jadi korban orang yang sering dibohongi.
Aku saat ini dibilang sombong? Ya nggak papa, berati mereka nggak mengerti aku. Getu aja kok repot, hehe.

Cara Mengurus Surat Akte Cerai

Kegiatan lain pasca perceraian yang kulakukan adalah dengan mengurus surat akte cerai.  Aku proses urus akte cerai ke Pengadilan Agama Malang pada tanggal 3 Maret 2021. Ketuk palu telah dilakukan pada tanggal 28 Januari 2021 dan surat akte cerai terbit satu bulan sesudahnya yaitu tanggal 24 Februari 2021.

Cara mengurus surat akte cerai prosesnya sangat mudah. Aku datang langsung melapor ke petugas yang berada di pintu masuk. Petugas bertanya keperluanku untuk apa dan apakah masih ingat nomor gugatanku. Aku sangat ingat sekali yaitu nomor 212. Dan petugas menyelutuk jika itu nomornya Wiro Sableng. Ah iya, betul juga tuh. Oh iya, semua petugas hari itu semua mengenakan atasan kemeja berwarna ungu.

@happydyahdotcom##divorce ##wanitamemilih♬ original sound – titi

Kemudian aku diberi nomor antrian D8 dan duduk menunggu untuk dipanggil. Belum dua menit aku duduk menunggu, nomor antrianku sudah dipanggil. Petugas di meja 4 seorang pria yang sangat ramah. Aku diminta untuk membayar Rp10,000 untuk PNBP. Kemudian aku juga diminta untuk menekan layar kepuasan masyarakat. Apakah dilayani dalam waktu 2 menit di meja tersebut.

pengadilan agama malang

Setelah dari meja 4, di pintu mau keluar aku diminta petugas untuk mengisi kuesioner berupa kertas dua lembar. Yaitu kuesioner survey kepuasan masyarakat yang diisi dengan pilihan mulai dari tidak sesuai, kurang sesuai, sesuai dan sangat sesuai. Setelah mengisi kuesioner aku diperbolehkan pulang. Sebelumnya aku minta tolong petugas untuk melakukan foto kopi akte cerai dan biaya foto kopinya gratis ^_^

Intinya, selama aku menjalani proses perceraian di bulan Januari 2021, mulai dari aku memasukkan gugatan sampai sidang putusan, semua berjalan lancar. Petugas sangat ramah dan sangat cepat juga tanggap agar waktu tidak berjalan lama. Juga tidak ada pungutan-pungutan di luar biaya perceraian. Semua sesuai prosedur yang berlaku.

cara mengurus surat cerai

Mengisi kuesioner kepuasan masyarakat setelah mengambil Akte Cerai (sumber: dok.pribadi)

 

Cara Mengurus KK Setelah Bercerai

Yang kulakukan saat pasca perceraian setelah mendapat surat akte cerai yaitu aku segera melakukan pisah Kartu Keluarga. Aku konsultasi dengan teman yang pengurus RT di perumahannya. Etapi dia juga bingung, karena belum pernah mendapat kasus seperti itu di warganya. Apakah aku harus ke RT dan RW dulu untuk minta surat pengantar, temanku juga tidak tahu.

Akhirnya aku putuskan untuk langsung datang ke kelurahan Mojolangu Kota Malang. Kelurahan Mojolangu aku pilih karena KK dan KTP yang kumiliki masih beralamat kelurahan tersebut.

Hari itu Jumat tanggal 5 Maret 2021, aku datang lebih pagi karena tahu akan ada shalat Jumat sehingga kantor kelurahan bisa tutup lebih cepat. Aku sudah menyiapkan semua dokumen. Padahal aku nggak browsing dulu sih, tetapi dokumen yang aku bawa ternyata terpakai semua untuk proses pecah KK.

Cara mengurus pecah KK setelah bercerai membutuhkan dokumen:

  • Kartu Keluarga asli dan foto kopi
  • KTP Asli dan foto kopi
  • Akte Cerai asli dan foto kopi
  • Akte lahir anggota keluarga asli dan fotokopi

Petugas laki-laki menyambutku dengan ramah dan aku diminta untuk mengisi formulir F-1.01. Setelah mengisi formulir kemudian dilampirkan dengan dokumen-dokumen dan dimasukkan ke loket Dispendukcapil. Jadi ternyata tuh, di setiap kelurahan ada loket dengan seorang petugas dari Dispendukcapil. Dan hari Jumat itu loket Dispendukcapil Kelurahan Mojolangu tutup jam 11 siang karena petugas wanita saat itu harus ke dinas lagi untuk memroses semua dokumen yang diterima hari itu. Sangat memudahkan sekali, karena memang lokasi Dispendukcapil Kota Malang berada di Kedung Kandang yang menurut orang Malang termasuk jauh jaraknya. Saya diberi tahu petugas kalau KK dan KTP yang baru akan terbit tanggal 16 Maret 2021 dan ada surat resi untuk pengambilan.

Pada tanggal 16 Maret 2021 aku kembali lagi ke Kelurahan Mojolangu untuk mengambil KK serta KTP baru. KK baru dengan aku sebagai kepala keluarga dan anakku sebagai anggota keluarga, yes hanya kami berdua saja. Jadi tuh, cara mengurus pecah KK setelah bercerai tidak perlu ke RT dan RW, cukup datang langsung ke kelurahan karena di sana ada loket Dispendukcapil yang dapat membantu kalian.

Demikian beberapa aktifitas yang kulakukan di pasca perceraian saat ini. Apakah ada perasaan menyesal? Iya ada, kenapa aku bisa menikah dengan orang itu? Biasalah, kalau menyesal itu belakangan, kalau di awal namanya pendaftaran. Tetapi ya diambil hikmahnya saja, tetap berhusnudzan padaNya, bahwa semua ini sudah diatur olehNya dengan ada maksud dan tujuan tertentu di kemudian hari yang inshaa Allah akan baik.

 

It’s not about the MONEY

it’s about the ATTITUDE